Siapa Bidan yang Membantu Lahirnya Pancasila?

by -45 Views

Oleh: Muhamad Zen

Ketua TOPAN-RI DPW Babel

Alumni Universitas Gunung Maras

 

SETIAP tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Upacara digelar, spanduk dibentangkan, baliho dipasang, pidato dibacakan, dan media sosial dipenuhi ucapan selamat. Semua tampak khidmat dan penuh nasionalisme.

Namun di tengah suasana yang serba resmi itu, izinkan saya mengajukan satu pertanyaan receh:

Siapa bidan yang membantu lahirnya Pancasila?

Pertanyaan ini memang terdengar seperti candaan warung kopi. Bahkan mungkin ada yang menganggapnya kurang kerjaan. Tetapi justru dari pertanyaan sederhana itu muncul ruang diskusi yang menarik.

Kalau ada Hari Lahir Pancasila, tentu publik berhak tahu proses kelahirannya. Sebab dalam kehidupan sehari-hari, ketika seorang bayi lahir, biasanya ada ayah, ibu, bidan, dokter, saksi, bahkan tetangga yang ikut menyaksikan.

Lalu bagaimana dengan Pancasila?

Siapa yang mengandungnya?

Siapa yang melahirkannya?

Dan siapa yang membantu proses persalinannya?

Di sinilah sejarah menjadi menarik sekaligus rumit.

Ada yang menyebut Ir. Soekarno sebagai โ€œpenggaliโ€ Pancasila. Ada yang mengingatkan bahwa jauh sebelum pidato 1 Juni 1945, sejumlah tokoh seperti Mohammad Yamin, Soepomo, Agus Salim, Wahid Hasyim, dan tokoh-tokoh lainnya telah terlibat dalam perdebatan panjang tentang dasar negara.

Kalau memakai bahasa satir, mungkin Soekarno adalah dokter kandungannya, Yamin adalah ahli gizinya, Soepomo adalah konsultan kebidanan konstitusinya, sementara BPUPKI menjadi ruang bersalinnya.

Artinya, Pancasila tidak lahir dari ruang kosong.

Ia lahir dari pergulatan pikiran, perdebatan ideologi, pertarungan gagasan, dan kompromi besar para pendiri bangsa.

Sayangnya, dalam praktik politik modern, kita sering memperlakukan Pancasila seperti bayi yang tiba-tiba ditemukan di depan rumah tanpa diketahui asal-usulnya.

Setiap tahun diperingati hari lahirnya, tetapi semakin sedikit yang mau membaca proses kelahirannya.

Yang ramai justru lomba memasang foto paling besar dan ucapan paling panjang.

Padahal, menghormati kelahiran tidak cukup hanya dengan mengingat tanggalnya.

Yang lebih penting adalah memahami cerita di balik proses persalinannya.

Sebab bangsa yang lupa proses kelahirannya biasanya akan mudah kehilangan arah masa depannya.

Di Universitas Gunung Maras, kampus yang tidak pernah masuk ranking dunia tetapi banyak melahirkan filsuf warung kopi, kami sering belajar bahwa sebuah ide besar tidak pernah lahir sendirian.

Ia lahir karena ada banyak orang yang rela berdebat, berbeda pendapat, bahkan saling mengkritik demi menemukan titik temu.

Dan mungkin itulah pelajaran terbesar dari lahirnya Pancasila.

Bahwa Indonesia tidak dibangun oleh satu orang.

Tidak pula oleh satu golongan.

Indonesia lahir dari kemampuan anak-anak bangsa untuk duduk bersama meskipun berbeda agama, suku, bahasa, kepentingan, bahkan ego politik.

Karena itu, setiap kali 1 Juni tiba, saya selalu merasa pertanyaan tentang โ€œsiapa bidan Pancasilaโ€ bukan sekadar lelucon.

Ia adalah pengingat bahwa sebuah bangsa besar tidak lahir dari kultus individu, melainkan dari gotong royong pikiran para pendirinya.

Dan mungkin, jika para pendiri bangsa melihat kondisi kita hari ini, mereka akan bertanya balik:

โ€œAnak yang kami lahirkan dulu sekarang sudah besar. Tapi apakah ia masih mengenali orang-orang yang dulu membantu proses kelahirannya?โ€

Selamat Hari Lahir Pancasila.

Mari kita rayakan bukan hanya tanggalnya, tetapi juga akal sehat yang melahirkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.