Bhabin BAIK Ubah Nasib Nenek Dayang, Rumah Layak Huni Berdiri dari Kepedulian dan Kebersamaan

by -3 Views

BELITUNG, cyber-broadnews.com โ€“ Di usia yang telah menginjak 72 tahun, Nenek Dayang Minggu tidak pernah membayangkan dirinya akan memiliki rumah yang layak untuk ditempati. Selama bertahun-tahun, janda lansia yang tinggal di Jalan Pesantren RT 12/RW 04, Desa Badau, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung itu menjalani hari-harinya dalam keterbatasan.

Rumah kayu tua yang selama ini menjadi tempat berteduh tampak rapuh dimakan usia. Dinding yang kusam, bangunan yang mulai miring, serta kondisi yang jauh dari kata nyaman menjadi saksi perjuangan hidup perempuan lanjut usia tersebut.

Namun takdir baik datang menghampirinya pada penghujung tahun 2021.

Melalui sebuah inovasi sosial bertajuk BHABIN BAIK (Belajar, Aspiratif, Inklusif, dan Kontekstual), Bhabinkamtibmas Polsek Badau, Aiptu Heriyadi, tergerak untuk membantu mewujudkan impian sederhana Nenek Dayang: memiliki rumah yang layak huni.

Sebelum pembangunan dimulai, persoalan terbesar bukan hanya rumah, melainkan juga lahan. Nenek Dayang bahkan tidak memiliki tanah atas namanya sendiri.

Berbekal kepedulian, Aiptu Heriyadi kemudian berupaya mencari solusi. Ia meminta bantuan kepada salah satu kerabat Nenek Dayang, yakni Saderi, yang kemudian bersedia menghibahkan sebidang tanah berukuran 5 x 5 meter persegi.

Tidak berhenti sampai di situ, tanah tersebut kemudian diurus hingga memiliki sertifikat resmi atas nama Nenek Dayang sendiri.

โ€œYang penting beliau punya tempat tinggal yang aman dan punya kepastian hak atas tanahnya,โ€ tutur Heriyadi.

Pada Jumat, 3 Desember 2021, peletakan batu pertama pembangunan rumah dilakukan. Momentum itu bukan sekadar awal pembangunan sebuah bangunan, tetapi awal lahirnya semangat kebersamaan yang menyatukan aparat, pemerintah desa, dan masyarakat.

Di bawah koordinasi Aiptu Heriyadi, warga Desa Badau dari empat dusun bergotong royong secara bergiliran. Perangkat desa, RT, RW, kepala dusun hingga masyarakat umum ikut menyumbangkan tenaga mereka.

Tidak ada upah pekerja, yang ada hanyalah semangat membantu sesama.

Dana pembangunan rumah sebagian besar berasal dari pengorbanan pribadi Aiptu Heriyadi. Selama satu tahun, ia menyisihkan uang operasional Bhabinkamtibmas sebesar Rp1,3 juta setiap bulan serta sebagian gajinya sebagai anggota Polri.

Bantuan juga datang dari berbagai pihak, termasuk Camat Badau saat itu, Kapolsek Badau AKP Fery Gunadi, Wakapolres, serta sejumlah dermawan yang menyumbangkan material bangunan seperti tegel dan keramik.

Total anggaran yang terkumpul mencapai sekitar Rp50 juta dan seluruhnya digunakan untuk pembelian material bangunan.

Enam bulan kemudian, kerja keras dan gotong royong itu membuahkan hasil.

Sebuah rumah permanen yang kokoh berdiri menggantikan rumah lama yang rapuh.

Rumah itu bukan hanya memiliki ruang yang layak dan nyaman, tetapi juga telah dilengkapi fasilitas dasar seperti listrik, tempat tidur, peralatan memasak, rak piring hingga kursi tamu.

Ketika kunci rumah diserahkan pada Juni 2022, suasana haru tak dapat disembunyikan.

Di depan rumah barunya yang bercat cerah, Nenek Dayang berdiri dengan mata berkaca-kaca. Senyum yang mengembang di wajahnya seolah menjadi jawaban atas segala jerih payah yang telah dilakukan banyak orang.

โ€œDulu saya tidak pernah berpikir bisa punya rumah seperti ini. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Pak Heriyadi, pemerintah desa, dan semua masyarakat yang sudah membantu saya,โ€ ujarnya lirih.

Menurutnya, bantuan tersebut bukan hanya memberikan tempat tinggal yang lebih layak, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan harapan baru di masa tuanya.

โ€œSaya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan mereka. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah diberikan,โ€ tuturnya.

Keberhasilan pembangunan rumah Nenek Dayang menjadi bukti bahwa kepedulian sosial tidak selalu harus lahir dari program besar dengan anggaran besar. Terkadang, perubahan besar justru dimulai dari niat tulus seseorang yang ingin membantu sesama.

Dukungan penuh Pemerintah Desa Badau, mulai dari masa kepemimpinan Kepala Desa Hermawan hingga dilanjutkan Kepala Desa Irawan Sumantri, menjadi bagian penting dari keberhasilan program tersebut.

Kini, rumah sederhana itu berdiri sebagai simbol kebersamaan warga Desa Badau. Bukan sekadar bangunan beton dan dinding yang kokoh, tetapi juga monumen kecil tentang arti gotong royong, kepedulian, dan kemanusiaan.

Di balik rumah itu tersimpan sebuah pesan sederhana: bahwa ketika banyak tangan bersatu untuk membantu, tidak ada beban yang terlalu berat untuk dipikul bersama. Dan bagi Nenek Dayang Minggu, rumah itu bukan hanya tempat tinggal, melainkan hadiah terindah di masa senjanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.