http://CyberBroadNews.com SUNGAILIAT, BANGKA — selasa 1/09/2026 – Polemik antara kalangan nelayan lokal dengan aktivitas pengerukan alur Muara Air Kantung kembali memanas. Berdalih melakukan pendalaman alur demi melancarkan navigasi kapal, keberadaan 10 Ponton Isap Produksi (PIP) di sekitar Alu dalam muara justru memicu perdebatan sengit dan penolakan keras dari para nelayan Sungailiat, Kabupaten Bangka.
Nelayan menilai, alih-alih menyelesaikan keterlambatan pendangkalan alur yang selama ini menyulitkan perahu melaut, keberadaan belasan armada tambang tersebut diduga kuat lebih berfokus pada aktivitas penambangan bijih timah ketimbang pengerukan alur pelayaran.
Alur Kerja & Titik Krusial Konflik
1. Pendangkalan Alur Muara
Masalah utama nelayan Sungailiat
Pendangkalan sedimentasi tanah dan pasir di pintu Muara Air Kantung terus berulang, mengakibatkan kapal-kapal nelayan kerap kandas dan hanya bisa melintas saat pasang tinggi.
2. Masuknya Armada Isap
Dalih pekerjaan pengerukan
Pihak pengelola atau kontraktor menerjunkan sekitar 10 unit KIP/PIP dengan skema pendalaman alur pelayaran sekaligus pemanfaatan potensi mineral pasir timah.
3. Reaksi dan Penolakan Nelayan
Memicu keresahan sosial
Nelayan mengeluhkan pola kerja armada yang dianggap merusak zona tangkap dekat pantai, keruhnya air laut, serta tuduhan bahwa pengerukan alur hanyalah tameng untuk aktivitas tambang secara masif.
Dan Perlu digaris bawahi Nelayan mendesak Pemerintah Kabupaten Bangka serta instansi terkait untuk mengevaluasi izin operasional Ponton ponton Isap produksi tersebut dan memastikan aktivitas difokuskan murni pada pengerukan alur tanpa merugikan ruang tangkap nelayan tradisional. ( Rony Christ)

