http://CyberBroadNews.com (JAKARTA) – Indonesia resmi masuk radar global logam tanah jarang (LTJ) pada 2026. Dengan potensi 300.000 ton, komoditas strategis untuk mobil listrik, turbin angin, hingga alutsista ini disiapkan jadi sumber devisa baru setelah nikel dan timah.
Data 2023 mencatat sumber daya LTJ Indonesia 136.206 ribu ton bijih dan 118.650 ton logam. Dua wilayah jadi tumpuan utama:

1. Bangka Belitung: Cadangan terbesar 186.663 ton monasit dan 20.734 ton xenotim sebagai hasil samping tailing timah. Biaya produksi lebih murah.
2. Mamuju, Sulawesi Barat: Satu-satunya deposit LTJ primer di Indonesia, ditetapkan sebagai pilot project hilirisasi nasional.
Pemerintah bergerak cepat lewat Badan Industri Mineral (BIM) di bawah Danantara. Dua proyek percontohan berjalan di Tanjung Ular, Bangka Belitung untuk olahan Cerium, Lantanum, Neodymium, dan di Mamuju untuk LTJ primer.
Komitmen diperkuat dengan agenda groundbreaking fasilitas riset dan industri LTJ oleh Presiden Prabowo Subianto pada 20 Mei 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga telah melarang ekspor mineral ikutan timah untuk memaksa hilirisasi di dalam negeri.
PT Timah Tbk bersama Perminas menargetkan monetisasi proyek LTJ pada 2028, sejalan dengan target industrialisasi pemerintah.
Namun, jalan menuju swasembada masih panjang. Empat tantangan besar menghadang: belum terbitnya IUPK khusus LTJ, belum adanya teknologi pengolahan skala ekonomi, minimnya data eksplorasi, dan tertinggal dari Vietnam, Laos, dan Myanmar yang sudah produksi.
Jika hilirisasi berhasil pada 2028, Indonesia berpeluang naik kelas dari pemain riset menjadi pemain kunci rantai pasok mineral kritis dunia.(CBN)





